Oil Price Rise first This Week
Minggu, 28 Desember 2008
A small number of transactions in the post-Christmas, the main crude oil contract "light sweet" in New York for delivery in February to become stronger U.S. dollar 37.71, up 2.36 U.S. dollars from the closing price on Wednesday.
Oil on the market close Thursday because of Christmas holidays. Oil contract in New York continue to dwindle during the nine previous trading session.
Crude oil "Brent" North Sea for delivery in February, the market Intercontinental ditransaksikan in London, up 1.76 U.S. dollars into U.S. dollars 38.37, after on Wednesday at 36.61 U.S. dollars position, which is the lowest position since July 2004.
Kesenjangan Pendapatan Meningkat Tajam di Seluruh Dunia
Selasa, 16 Desember 2008
Laporan Dunia Kerja 2008 yang dikeluarkan Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO) menunjukkan kesenjangan pendapatan yang cukup tajam di sebagian besar negara di dunia. Kesenjangan ini diprediksi meningkat di tengah situasi keuangan dunia yang menghadapi krisis hampir setahun belakangan ini dan memuncak pada Agustus lalu.
"Laporan kami menemukan bahwa pendapatan rumah tangga yang lebih sejahtera lebih cepat meningkat daripada keluarga miskin. Walaupun pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja terjadi 15 tahun terakhir, tapi yang terjadi sebenarnya ketidaksetaraan pendapatan," ujar Direktur ILO di Indonesia, Allan Boulton.
Peluncuran laporan World of Work Report 2008: Income inequalities in the age of financial globalization digelar di Hotel Gran Melia, Jakarta, Selasa (16/12).
Laporan ini merupakan hasil studi yang dilakukan International Institute for Labour Studies di 70 negara maju dan berkembang, berkaitan dengan kesenjangan pendapatan, mengkaji upah, dan perkembangan ekonomi. Di 51 negara dari 70 negara yang dikaji, tingkat upah dalam pendapatan keseluruhan menurun selama lebih dari dua dekade ini.
Penurunan terbesar terjadi di Amerika Latin dan Karibia, diikuti Asia dan Pasifik, serta negara-negara maju. Ekonom senior International Institute for Labour Studies, Ekkehard Ernst, dalam paparannya memberikan salah satu contoh kesenjangan yang cukup tajam antara upah eksekutif dan upah pekerja dengan level terendah di Amerika.
Di Amerika Serikat, pada tahun 2007 para pemimpin perusahaan di 15 perusahaan terbesar menerima pendapatan 520 kali lebih besar dibandingkan dengan rata-rata upah pekerja. Pola serupa juga terjadi di negara-negara lain, seperti Australia, Jerman, Hongkong, dan China.
Sayangnya, tidak ada angka pasti yang menunjukkan kondisi serupa di Indonesia meskipun dikatakan bahwa sebagai negara berkembang, Indonesia juga mengalami keadaan yang tak berbeda.
Kesenjangan ini, salah satu penyebabnya karena lemahnya sektor informal. Ekkehard mengatakan, laporan ini diharapkan bisa menjadi acuan bagi pengambil kebijakan untuk mengantisipasi dampak yang lebih besar dari krisis keuangan global.
Sementara itu, Dirjen Kerja Sama Luar Negeri Depnakertrans Guntur Wicaksono mengungkapkan, laporan ini akan digunakan pihaknya untuk menentukan langkah terbaik atas dampak krisis keuangan di dunia kerja.
"Laporan ini penting, karena kami sedang menghadapi situasi ekonomi yang sulit dan harus berhadapan dengan ketenagakerjaan," ujarnya.
*Kompas
Harga Minyak Dunia terus Anjlok
Sabtu, 15 November 2008
Dari bursa komoditas New York Mercantile Exchange, kontrak pengiriman minyak light, sweet untuk Desember mendatang turun 1,20 dollar AS serta ditutup pada 57,04 dollar AS per barrel. Harga minyak telah merosot sekitar 60 persen dalam 4 bulan terakhir setelah mencapai 147,27 dollar AS per barrel Juli lalu. OPEC yang memproduksi sekitar 40 persen suplai minyak dunia telah menyampaikan kemungkinannya kembali memotong kuota produksi menjelang akhir bulan ini apabila harga minyak terus merosot.
Departemen Perdagangan AS melaporkan terdapat penurunan terbesar pada penjualan ritel dan kemerosotan tajam kebutuhan minyak pada inventaris bisnis. Departemen Perdagangan AS menjelaskan penjualan ritel merosot hingga 2,8 persen bulan lalu atau lebih besar dari penurunan sebesar 2,65 persen pada November 2001 atau pascaserangan teroris di AS.
Harga Minyak Dunia terus Anjlok
Dari bursa komoditas New York Mercantile Exchange, kontrak pengiriman minyak light, sweet untuk Desember mendatang turun 1,20 dollar AS serta ditutup pada 57,04 dollar AS per barrel. Harga minyak telah merosot sekitar 60 persen dalam 4 bulan terakhir setelah mencapai 147,27 dollar AS per barrel Juli lalu. OPEC yang memproduksi sekitar 40 persen suplai minyak dunia telah menyampaikan kemungkinannya kembali memotong kuota produksi menjelang akhir bulan ini apabila harga minyak terus merosot.
Departemen Perdagangan AS melaporkan terdapat penurunan terbesar pada penjualan ritel dan kemerosotan tajam kebutuhan minyak pada inventaris bisnis. Departemen Perdagangan AS menjelaskan penjualan ritel merosot hingga 2,8 persen bulan lalu atau lebih besar dari penurunan sebesar 2,65 persen pada November 2001 atau pascaserangan teroris di AS.
Pertemuan G-20 Tidak Bisa Diharapkan Atasi Krisis Global
Agenda pertemuan difokuskan pada upaya untuk menanggulangi krisis finansial global, mengatasi dampak negatifnya, dan mencegahnya terulang kembali.
Salah satu misi penting, yang diusung UE, adalah keinginan mengatur sektor keuangan, yang menjadi pemicu utama krisis global. Presiden AS George W Bush secara implisit menolak tekanan dari UE, yang secara konsisten terus menuding AS sebagai penyebab krisis.
Presiden Perancis Nicolas Sarkozy, yang kini menjabat kepresidenan Uni Eropa, ingin mendorong reformasi atas arsitektur finansial dunia. Bersama Perdana Menteri Inggris Gordon Brown, Sarkozy memimpin Uni Eropa (UE) untuk menstabilkan perbankan dan memulihkan kepercayaan pasar.
AS dan UE memperlihatkan sikap yang berbeda soal itu.
Negara anggota G-20 adalah Argentina, Australia, Brazil, Kanada, Cina, Perancis, Jerman, India, Indonesia, Italia, Jepang, Meksiko, Rusia, Saudi Arabia, Afrika Selatan, Korea Selatan, Turki, Inggris, Amerika Serikat, dan Uni Eropa. Anggota G-20 mewakili 85 persen PDB dunia, dan menjadi tempat tinggal bagi dua pertiga populasi global serta memiliki 80 persen saham di Bank Dunia dan IMF.
Pertemuan itu sebenarnya diharapkan bisa menghasilkan sesuatu yang konkret untuk mengatasi krisis finansial. Namun, banyak pihak skeptis akan muncul keajaiban dari forum tersebut.


